PENGHIANATAN TERHADAP ALUK TODOLO’ DALAM RITUAL RAMBU SOLO’

Aluk todolo adalah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat toraja pada zaman dahulu sebelum agama samawi masuk ke toraja, secara bahasa artinya (aluk=aturan, todolo= nenek moyang). Aluk todolo menurut penganutnya diturunkan oleh Puang Matua yang mulanya diturunkan kepada leluhur pertama Datu’ La Ukku’ yang kemudian menurunkan ajaran kepada anak cucunya. Oleh karena itu menurut Aluk Todolo, manusia harus menyembah, memuliakan Puang Matua yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual.

Pada hakikatnya kepercayaan Aluk Todolo berintikan 2 hal yaitu pandangan terhadap alam dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing mamiliki fungsi dan tugas masing-masing dalam menjaga keharmonisan dunia. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, sebutlah misalnya Rambu Solo’, maka bencana pun tak dapat dihindarkan. Rambu solo’ adalah salah satu bentuk ritual yang kental dengan Aluk Todolo. Rambu Solo’ pada dasarnya adalah ritual yang digelar keluarga untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal. Ritual ini di gelar semewah mungkin agar arwah leluhur dapat diterima di puyo(surga). Kerbau dan babi pun dikorbankan sebanyak mungkin agar perjalanan sang arwah ke surga tidak terhambat. Aluk Todolo mempercayai bahwa jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju Puyo adalah Tedong Bonga sebab kerbau ini dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah menuju surga.

Menurut kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal pada akhirnya akan menuju suatu tempat yang disebut Puyo (surga). Puyo adalah tempat yang kekal bagi arwah dan terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Tidak semua arwah itu dengan sendirinya masuk ke puyo. Untuk mencapai puyo perlu di dahului dengan ritual penguburan sesuai dengan status sosial selama hidupnya, apabila arwah tidak di upacarakan secara sempurna menurut kepercayaan alukta’ maka yang bersiap-siaplah menjadi arwah yang tersesat. Selama arwah belum diupacarakan, arwah akan berwujud setengah dewa dan dianggap tidak sempurna dalam istilah toraja disebut sebagai Tomebali Puang. Sambil menunggu persembahan untuknya, sang arwah senantiasa memperhatikan keluarganya. "Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai Aluk dan mengingat Pamali. Ini yang disebut Sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan Salah Aluk (Tomma’ Liong-Liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju puyo (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando. Oleh karena itu, ritual kematian yang dilakukan haruslah mengikuti Aluk yang berhubungan dengan kematian dan prosesnya wajib mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku pada upacara Rambu Solo’. Makanya, sebelum pesta dilakukan haruslah mengumpulkan sanak famili untuk membicarakan kapan dan dimana pelaksanaan upacara serta berapa ratus ekor kerbau dan babi yang harus jadi korban. Pelaksanaannya harus mengikuti prosedur standar upacara Rambu Solo’ agar sang arwah dapat bersenang-senang di Puyo. Apabila ada bagian yang dilanggar maka tersesatlah sang arwah. Kebahagian arwah di Puyo juga ditentukan oleh kualitas upacara kematian yang digelar oleh keluarga. Makin sempurna suatu upacara maka semakin bahagialah arwah di Puyo, begitupun sebaliknya.

Menurut pastor Stanislaus, gereja bisa menangkap dasar dari semua itu, ada kemungkinan iman kristiani di kalangan pemeluk katolik di tana toraja akan lebih tertanam apabila adat toraja dan iman kristiani bias saling mengisi. Sebagai orang toraja pastor Stanislaus menyatakan, upacara kematian dimaksudkan sebagai ungkapan kerinduan, ungkapan kasih sayang terhadap leluhur yang telah meninggal. Lebih dari itu, bagi orang toraja ada kesadaran yang muncul lewat upacara Rambu Solo’, yakni bahwa dunia ini tidak habis setelah kita meninggal dunia.

Melihat kenyataan yang ada, nampaknya tradisi yang diwariskan ajaran Aluk Todolo,khususnya dalam ritus-ritus Rambu Solo’ masih akan bertahan sampai kapan pun! Sebab bagi masyarakat toraja berbicara mengenai pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong tetapi juga soal malu (siri’). Dulunya pesta meriah hanya boleh diadakan oleh kaum bangsawan. Akan tetapi, sekarang mulai bergeser. Siapa yang kaya maka itulah yang pestanya meriah Saya cuma heran ketika rambu solo’ sampai saat ini masih dipertahankan sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur orang toraja. Padahal nilai yang terdapat dalam ritual sekarang ini telah jauh dan di bumbui oleh ajaran agama tanpa memandang keberadaan Aluk Todolo sebagai pemegang otoritas dari Rambu Solo’.

Tradisi Rambu Solo’ yang murni ajaran aluk todolo telah mengalami perubahan nilai yang sebenarnya yaitu penghormatan terhadap nenek moyang sedangkan kini menjadi ajang perlombaan untuk meningkatkan status dan gengsi di masyarakat. Hal inilah yang akan menancapkan kukunya dengan erat di dalam ritual Rambu Solo’.

Saya tidak takut semua ini akan hilang, yang saya takuti justru kalau orang melakukan ritus rambu solo sekadar untuk show. Kalau itu yang terus terjadi maka kerugian yang di dapat. Kalau begitu kenapa orang harus rela menghamburkan uang bahkan meminjam jika tidak mempunyai uang hanya untuk melakukan ritual Rambu Solo’ ?? >>lakipadada: dari berbagai sumber

One Response to “PENGHIANATAN TERHADAP ALUK TODOLO’ DALAM RITUAL RAMBU SOLO’”

  1. desty Says:

    setuju!!!
    jangan sampai anak-cucu dah habis2an ngadain rambu solo’ masih dibelit utang pula…

Leave a Reply