Archive for July, 2007

PENGHIANATAN TERHADAP ALUK TODOLO’ DALAM RITUAL RAMBU SOLO’

Wednesday, July 11th, 2007

Aluk todolo adalah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat toraja pada zaman dahulu sebelum agama samawi masuk ke toraja, secara bahasa artinya (aluk=aturan, todolo= nenek moyang). Aluk todolo menurut penganutnya diturunkan oleh Puang Matua yang mulanya diturunkan kepada leluhur pertama Datu’ La Ukku’ yang kemudian menurunkan ajaran kepada anak cucunya. Oleh karena itu menurut Aluk Todolo, manusia harus menyembah, memuliakan Puang Matua yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual.

Pada hakikatnya kepercayaan Aluk Todolo berintikan 2 hal yaitu pandangan terhadap alam dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing mamiliki fungsi dan tugas masing-masing dalam menjaga keharmonisan dunia. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, sebutlah misalnya Rambu Solo’, maka bencana pun tak dapat dihindarkan. Rambu solo’ adalah salah satu bentuk ritual yang kental dengan Aluk Todolo. Rambu Solo’ pada dasarnya adalah ritual yang digelar keluarga untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal. Ritual ini di gelar semewah mungkin agar arwah leluhur dapat diterima di puyo(surga). Kerbau dan babi pun dikorbankan sebanyak mungkin agar perjalanan sang arwah ke surga tidak terhambat. Aluk Todolo mempercayai bahwa jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju Puyo adalah Tedong Bonga sebab kerbau ini dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah menuju surga.

Menurut kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal pada akhirnya akan menuju suatu tempat yang disebut Puyo (surga). Puyo adalah tempat yang kekal bagi arwah dan terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Tidak semua arwah itu dengan sendirinya masuk ke puyo. Untuk mencapai puyo perlu di dahului dengan ritual penguburan sesuai dengan status sosial selama hidupnya, apabila arwah tidak di upacarakan secara sempurna menurut kepercayaan alukta’ maka yang bersiap-siaplah menjadi arwah yang tersesat. Selama arwah belum diupacarakan, arwah akan berwujud setengah dewa dan dianggap tidak sempurna dalam istilah toraja disebut sebagai Tomebali Puang. Sambil menunggu persembahan untuknya, sang arwah senantiasa memperhatikan keluarganya. "Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai Aluk dan mengingat Pamali. Ini yang disebut Sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan Salah Aluk (Tomma’ Liong-Liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju puyo (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando. Oleh karena itu, ritual kematian yang dilakukan haruslah mengikuti Aluk yang berhubungan dengan kematian dan prosesnya wajib mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku pada upacara Rambu Solo’. Makanya, sebelum pesta dilakukan haruslah mengumpulkan sanak famili untuk membicarakan kapan dan dimana pelaksanaan upacara serta berapa ratus ekor kerbau dan babi yang harus jadi korban. Pelaksanaannya harus mengikuti prosedur standar upacara Rambu Solo’ agar sang arwah dapat bersenang-senang di Puyo. Apabila ada bagian yang dilanggar maka tersesatlah sang arwah. Kebahagian arwah di Puyo juga ditentukan oleh kualitas upacara kematian yang digelar oleh keluarga. Makin sempurna suatu upacara maka semakin bahagialah arwah di Puyo, begitupun sebaliknya.

Menurut pastor Stanislaus, gereja bisa menangkap dasar dari semua itu, ada kemungkinan iman kristiani di kalangan pemeluk katolik di tana toraja akan lebih tertanam apabila adat toraja dan iman kristiani bias saling mengisi. Sebagai orang toraja pastor Stanislaus menyatakan, upacara kematian dimaksudkan sebagai ungkapan kerinduan, ungkapan kasih sayang terhadap leluhur yang telah meninggal. Lebih dari itu, bagi orang toraja ada kesadaran yang muncul lewat upacara Rambu Solo’, yakni bahwa dunia ini tidak habis setelah kita meninggal dunia.

Melihat kenyataan yang ada, nampaknya tradisi yang diwariskan ajaran Aluk Todolo,khususnya dalam ritus-ritus Rambu Solo’ masih akan bertahan sampai kapan pun! Sebab bagi masyarakat toraja berbicara mengenai pemakaman bukan hanya berbicara upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong tetapi juga soal malu (siri’). Dulunya pesta meriah hanya boleh diadakan oleh kaum bangsawan. Akan tetapi, sekarang mulai bergeser. Siapa yang kaya maka itulah yang pestanya meriah Saya cuma heran ketika rambu solo’ sampai saat ini masih dipertahankan sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur orang toraja. Padahal nilai yang terdapat dalam ritual sekarang ini telah jauh dan di bumbui oleh ajaran agama tanpa memandang keberadaan Aluk Todolo sebagai pemegang otoritas dari Rambu Solo’.

Tradisi Rambu Solo’ yang murni ajaran aluk todolo telah mengalami perubahan nilai yang sebenarnya yaitu penghormatan terhadap nenek moyang sedangkan kini menjadi ajang perlombaan untuk meningkatkan status dan gengsi di masyarakat. Hal inilah yang akan menancapkan kukunya dengan erat di dalam ritual Rambu Solo’.

Saya tidak takut semua ini akan hilang, yang saya takuti justru kalau orang melakukan ritus rambu solo sekadar untuk show. Kalau itu yang terus terjadi maka kerugian yang di dapat. Kalau begitu kenapa orang harus rela menghamburkan uang bahkan meminjam jika tidak mempunyai uang hanya untuk melakukan ritual Rambu Solo’ ?? >>lakipadada: dari berbagai sumber

ibadah untuk apa???

Sunday, July 1st, 2007

Ibadah untuk apa?

Pendahuluan

Kemapaman Gereja-Gereja pewaris tradisi Protestan dari Eropa sekarang ini cukup terusik dengan munculnya pelbagai macam kelompok persekutuan Kristen dalam kurun waktu sekitar dua puluh tahunan terakhir ini. Tradisi dan Aturan bahkan Pengakuan Gereja yang dimiliki ternyata tidak mampu untuk membentengi anggotanya yang tergoda dengan pola pelayanan bahkan ajaran-ajaran yang dikemukakan/ditawarkan oleh kelompok persekutuan tersebut.

Kelompok/persekutuan yang pada mulanya bersifat Gerakan ini, ternyata telah mengokohkan diri dengan mengambil wujud Gereja Baru, dengan berbagai nama dan bentuk. Perkembangan jumlah anggotanyapun tidak tanggung-tanggung yang kelihatannya semakin bertambah dari hari ke hari. Kebanyakan anggotanyapun terdiri dari para pebisnis kaya, Pejabat pemerintahan, para selebritis dan lain sebagainya. Irinisnya lagi ialah bahwa pertambahan anggota mereka itu justru berasal dari anggota Gereja (denominasi lain) yang selama ini telah menjadi anggota, bahkan aktivis di Gereja asalnya.

Memang, ada juga yang ke sana hanya untuk ikut kebaktian yang dianggap membawa suasana lain dan baru. Suasana yang menurut mereka membawa lebih dekat kepada Tuhan dan lebih memahami Firman Tuhan. Menurut mereka di sana mereka bebas memuji dan memuliakan Tuhan, bebas berekspressi, merasakan kehadiran Roh dalam hati dan mendengar Firman Tuhan yang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Atau dengan kata lain ada sesuatu hal yang esensial (sadar atau tidak) yang mereka cari dalam menghayati persekutuan mereka dengan Tuhan, khususnya dalam beribadah. Dan menurut perasan mereka kebutuhan mereka itu cukup terlayani di gerakan-gerakan/kelompok-kelompok Pentakostal/moderen.

Untuk penulisan yang lebih obyektif, saya mendatangi beberapa kali ibadah Minggu dan Ibadah Pastoral/Pelepasan di Gereja Tiberias Gading Centre, serta Bethel Mawar Saron juga di daerah Kelapa Gading. Saya membatasi diri di kedua Gereja ini, karena kelompok inilah yang paling banyak berpengaruh bagi sebagian anggota Gereja Toraja sekarang ini di banyak tempat, termasuk di daerah Tana Toraja sendiri. Juga anggota Gereja Toraja Jemaat Kramat yang saya layani.

Kemudian, juga mengadakan wawancara dengan mereka yang sering pergi beribadah dan bahkan yang telah turut melayani di sana( Singer, administrasi, dlsb.). Saya kurang mendapatkan pembahasan tertulis tentang fenomena ini. Semoga bermanfaat !

II. Ibadah Dalam Kenyataan.

a. Ibadah Dalam Gereja Toraja.

Dalam Gereja Toraja ada empat susunan Liturgi peribadahan hari Minggu yang digunakan secara bergantian tiap minggu pada setiap bulannya. Juga ada dua acam susunan Liturgia Ibadah Rumah Tangga. Sekalipun Susunan-susunan Liturgi tersebut telah dirasa cukup melibatkan warga jemaat secara aktif dan tidak lagi ada masalah gender, namun sebagian warga masih tetap merasakan adanya kekakuan dan kebosanan. Dibandingkan dengan ibadah kelompok Pentakostal moderen tersebut, Ibadah dalam Gereja Toraja dirasakan terlalu serious dan tegang, tidak santai, dan pemberitaan Firman Tuhan yang dirasakan terlalu formal, ilmiah dan dogmatis. Gereja Toraja, bagaimanapun harus diakui sebagai salah satu Gereja yang berdiri dengan pewarisan tradisi zendeling, Gerefomeerde Zendings Bond yang membina Gereja Toraja sejak 10 Nopember 1913. 1). ———————————————— 1). Sarira, J.A., Benih Yang Tumbuh VI, Suatu Survey Mangenai Gereja Toraja, Percetakan Arnoldus Ende-Flores, 1975, hal 21.

Praktis, sebenarnya Pekabaran Injil di Tana Toraja dimulai Tahun 1908, dua tahun setelah pendudukan Belanda, 1906. Para Pekabar Injil itu adalah Guru-Guru yang mereka datangkan dari Maluku, Sangir, Minahasa dan Timor. Dan pembaptisan pertama dilaksanakan lima tahun kemudian, yakni pada tanggal 16 Maret 1913 di Makale, terhadap 20 orang muda dari kalangan atas dan bangsawan.

2). Selanjutnya perkembangan penerimaan Injil di kalangan masyarakat Toraja sangat lamban. Hal ini antara lain disebabkan, karena sebelumnya masyarakat Toraja telah memiliki agama lama(Aluk Todolo) yang diwariskan oleh Nenek Moyang mereka, yang bahkan telah diikat sedemikian rupa dalam tatanan kehidupan sehari-hari yang disebut Adat. Mereka punya keyakinan bahwa Adat dan Aluk(agama) itu tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Ada keyakinan bahwa meninggalkan Adat dan Aluk berarti pengkhianatan terhadap para Leluhur. Dan hal itu sangat ditakuti.

Injil baru berkembang sangat luar biasa, dalam jumlah, pada saat pergerakan separatis gerombolan DI-TII di Sulawesi Selatan, antara Tahun 1945 – 1966. Saat itu masyarakat Toraja harus memilih agama baru, Islam atau Kristen. Dan umumnya masyarakat Toraja lebih memilih agama Kristen, yang banyak didasarkan pada masalah Adat-istiadat. Belum sepenuhnya pada penerimaan Injil yang diimani. Bahkan dapat dikatakan bahwa Gereja pada saat itu sama sekali tidak siap menerima suatu perkembangan, dalam hal jumlah anggota, yang sangat luar biasa itu. Gereja tidak punya cukup tenaga untuk melayani dan membina anggota yang bertambah tiba-tiba itu. Anggota dilayani seadanya saja, sehingga pengaruh Adat-Aluk lama yang sangat kalem dan indoktriner itu cukup menyuburkan pengaruh pewarisan tradisi para Zendeling.

Itulah pula yang menyebabkan banyak warga Gereja, —————————————- 2). Ibid. hal. 24. termasuk sebagian besar Pejabat Gereja yang sampai sekarang ini tidak dapat membedakan antara upacara(ritual) Agama Lama(Aluk Todolo) dengan Ibadah Kristen. Merekapun memahami Ibadah Kristen itu sebagai suatu upacara keagamaan dan kewajiban Kristen yang membebani. Dan karena itu Ibadah itupun berjalan secara formalistis saja. Mareka tidak mengalami suka-cita dan damai sejahtera.

Kehadiran Allah tidak dirasakan dan tidak diterima sebagai sebuah kehadiran yang membebaskan, yang mendamaikan, yang memberi suka cita dan kasih, yang mensejahterakan dan yang menyelamatkan. Ibadah juga tidak dihayati sebagai sebuah jawaban iman warga jemaat atas kasih karunia dan kemenangan Tuhan Yesus Kristus atas maut. Ibadah itu dilakukan sekedar semacam ritual saja dan bukan sebuah pertemuan antara Allah dengan Umat-Nya.

Dr.J.L.Ch. Abineno mengatakan : Ibadah Jemaat ialah suatu pertemuan antara Allah dengan Jemaat. Dalam pertemuan itu berlangsung semacam ‘dialog’: Allah berfirman dan Jemaat mendengar, Allah memberi dan Jemaat menerima serta mengucap syukur, Allah mengampuni dan Jemaat memuji nama-Nya, dan lain-lain.

3). Di sana Jemaat seharusnya benar-benar dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam kasih-Nya. Di sana Jemaat dapat dihiburkan dan dikuatkan dalam menghadapi kehidupan dan pergumulannya. Di sana Jemaat dapat mengangkat puji-pujian dan ucapan syukurnya kepada Tuhan atas segala kebaikan-Nya. Di sana Jemaat dapat menikmati keindahan persekutuan umat yang telah diselamatkan oleh anugerah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan si sana pulalah Jemaat dapat dikuatkan dan diarahkan untuk suatu Ibadah yang hidup dan sejati di tengah kehidupannya sehari-hari(Roma 12 : 1). Ibadah(Liturgi) yang dirangkai dalam suatu susunan akta-akta liturgi(peribadahan), ————————————— 3). Abineno,J.L.Ch, Gereja Dan Ibadah Gereja, BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 1986, Hal.1.

rasanya belum sepenuhnya melibatkan seluruh eksistensi seseorang dalam suatu ‘pertemuan dengan Allah dan persekutuan peribadahan persekutuan umat Kristen’. Rasanya peribadahan itu hanya bersifat pertemuan formal anggota dari suatu kelompok organisasi keagamaan yang yang seide yang telah diatur secara organisatoris.

Dalam diskusi dengan beberapa warga Jemaat yang saya layani (Jemaat Kramat), alasan yang mereka kemukakan hampir semua sama, mengapa mereka senang ke sana adalah karena ‘kebutuhan peribadahan dan persekutuan mereka dengan Tuhan tidak terjadi dalam peribadahan yang dilakukan dalam Gereja Toraja’. Seolah ada sisi yang hilang, terutama dalam memuliakan Tuhan melalui puji-pujian.

Pemberitaan Firman Tuhan-pun terasa jauh dari yang mereka harapkan dan butuhkan. Pelibatan perasaan sama sekali tidak diindahkan.

Semuanya sangat ratsional, sehingga menjadi sangat formalistik dan kering, terutama bagi mereka yang kurang atau tidak punya pengetahuan dasar tentang masalah teologia.

Mereka beranggapan bahwa Ibadah dalam Gereja Toraja itu sangat mirip dengan sebuah upacara kenegaraan di mana warga jemaat berdiam diri saja sambil menunggu aba-aba (komando) dari pimpinan ibadah. Dan sebaliknya pemimpin/pelayan ibadah itu dengan sangat tekunnya menuntun warga jemaat untuk melakukan akta demi akta dengan sempurna. Kesan, sang pemimpin ibadah berdiri di sana bagaikan sutradara yang sekaligus sebagai pelakon utama, sementara warga jemaat duduk dengan tenang sebagai penonton yang menunggu aba-aba untuk melakuan akta-demi akta. Akibatnya warga jemaat sama sekali tidak sedang bertemu dengan Tuhan, tidak ada kehangatan kehadiran Tuhan, dan tidak ada kebersamaan memuliakan Tuhan.

Dengan demikian warga jemaatpun kembali ke rumah dan pekerjaan sehari-hari tanpa kekuatan dan suka-cita sorgawi(katanya).

Tapi, memang Gereja harus terbuka dan tidak boleh bangga dengan kemapanan warisan tradisi Gereja yang berasal dari waktu lalu dan Lembaga Zendeling.

b. Ibadah Pada Kelompok Pentakostal Moderen.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk kedua Gereja, Bethel Mawar Saron dan Tiberias, mempunyai ciri yang hampir sama, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah. Dalam peribadahan mereka, keduanya mengutamakan pelibatan emosi secara total melalui puji-pujian dengan komentar-komentar yang merangsang emosi dan menggetarkan hati. Untuk ibadah-ibadah hari Minggu, kedua-duanya tetap melaksanakan pelayanan Perjamuan Kudus.

Perbedaannya adalah untuk Tiberias, perayaan Perjamuan Kudus itu dilaksanakan pada setiap jam kebaktian, sedangkan Bethel hanya sekali dalam setiap ibadah Minggu. Kedua-duanya melaksanakan akta ‘penyembuhan Ilahi’. Tiberias melaksanakan pelayanan penyembuhan Ilahi itu sangat dikaitkan dengan perayaan Perjamuan Kudus dan dengan minyak urapan.

Dalam sebuah percakapan dengan seorang petugas di Gereja Tiberias Center Kelapa Gading, bahwa minyak urapan itu adalah minyak Bimoli yang sudah diurapi oleh Pdt. Yesaya Pariaji. Dan karena itu menurut para pengikut Tiberias, penyembuhan akan sangat mujarab apabila dilayani oleh Pdt. Yesaya Pariaji, dan menggunakan minyak urapan. Sekalipun pelayanan penyembuhan Ilahi oleh kedua Gereja tersebut itu sangat penting, namun perbedaan mereka adalah bahwa pada Gereja Tiberias penyembuhan itu lebih banyak ditentukan oleh pribadi pelayan tertentu, sedangkan Gereja Bethel oleh siapa saja yang melayani dalam ibadah yang bersangkutan.

Penyakit bagi kedua Gereja tersebut adalah bukti penguasan iblis dan iman yang dangkal. Yang jelas keduanya ‘menghardik dan memerintahkan penyakit itu keluar atas nama Kristus’.

Gereja Bethel tidak mengenal minyak urapan, tetapi obat yang terpaksa dipakai itu harus diurapi oleh pendeta terlebih dahulu.

Lagu dan jenis lagu dan tema lagu yang digunakan hampir keduanya sama. Doa dan cara berdoa dalam Gereja Tiberias, khususnya pada ibadah Pelepasan dan Pastoral, diungkapkan dengan sangat emosional dan sangat cepat, sehingga hampir-hampir tidak lagi jelas kedengaran.

Isi doa, misalnya doa sesudah Perjamuan Kudus; dalam nama Yesus, kami tolak, penyakit(disebut satu-persatu jenis penyakit), kami tolak berobat ke rumah sakit dan dokter, dalam nama Yesus kami tolak kemiskinan, kami tolak bangkrut, kami tolak rugi(dan banyak istilah dalam masalah ekonomi), dalam nama Yesus kami kaya, harta bertambah, dan lain sebagainya.

Hal-hal seperti itu yang walaupun juga ada dalam Gereja Bethel, namun tidak seekstrim dalam Gereja Tiberias.

Penyambutan-penyambutan terhadap setiap ungkapan tentang Yesus, khususnya di Gereja Tiberias selalu dilakukan dengan tepuk tangan :’bri hormat dan kemuliaan untuk Tuhan Yesus’.

Tepuk tangan dalam menyanyi relatif kurang dalam Gereja Tiberias, jika dibandingkan dengan Gereja Bethel.

Di Tiberias lebih banyak mengangkat kedua tangan ke atas juga dalam menyanyikan pujian dan doa.

Tentang pemberitaan Firman, keduanya langsung membahas ayat per-ayat.

Sesekali dimunculkan sedikit latar belakang situasi dan penulisan, dan langsung dikenakan kepada kenyataan hidup dan bersifat menantang. Menantang warga untuk berbuat sesuai dengan anjuran Firman tersebut. Memang sangat sederhana dan praktis untuk dipahami.

Masalah bagi saya, bukan pada tepuk tangan mengiringi pujian, juga bukan pelibatan perasaan/emosi. Firman Allahpun sah-sah saja. Peribadahan pada merekapun sebenarnya tidak ada kebebasan berekpresi yang sesungguhnya, karena telah diatur sedemikian rupa cara melagukan pujian, berdoa, serta sambutan-sambutan yang sudah baku. Lagu pujianpun sebenarnya tidak terlalu berkembang. Nilai teologis dari nyanyian pujian, doa dan khotbah dapat dikatakan sangat sedikit. Ia mungkin lebih mengacuh pada teks Alkitab dengan penafsiran yang sangat sederhana dan bahkan bisa tidak tepat.

Ada penekanan mutlak pada rasa selalu bersalah dan berdosa di hadapan Tuhan yang dinampakkan dalam kegagalan-kegagalan hidup, khususnya masalah ekonomi dan rumah tangga. Dari penekanan ini, jemaat digiring kepada penyesalan dan pertobatan yang dipaksakan melalui cara melagukan pujian dan isi nyanyian. Situasi diciptakan sedemikian rupa sehingga ia menjadi sangat emosional, yang nampak dalam teriakan-teriakan, tangisan, tepuk tangan, dlsb. Situasi demikian ini dapat menggiring setiap anggota untuk taat sepenuhnya pada apa saja yang dikatakan oleh sang pemimpin.

III Ibadah Dalam Alkitab : Tinjauan Teologis dan Teoritis.

Dibandingkan dengan Ibadah Jemaat mula-mula, kesan terhadap Ibadah Jemaat Prostestan sekarang ini, adalah sangat miskin. Miskin oleh karena tidak adanya penghargaan terhadap karya Roh Kudus yang membebaskan itu. Tidak ada kebebasan berekspresi dalam kuasa dan tuntunan Roh Kudus dalam persekutuan Ibadah itu.

Menurut Rasul Paulus ( I Kor.14), salah satu tujuan Ibadah adalah untuk membangun sebuah komunitas, yang menampakkan keutuhan ‘tubuh Kristus’.

4). Karena itu ia sangat berbeda dengan ibadah Kafir dan Yahudi, yang didasarkan pada pemberian korban dan ritual dari manusia.

5). Bagaimana bentuk ekspresi dalam ibadah yang bisa dikatakan ‘kebebasan karya Roh Kudus’. Apakah yang rational atau yang emosional ? Apakah yang tenang-tenang saja atau yang merupakan peluapan perasaan/emosi dengan segala gerakan, tepuk tangan dan menangis, dan lain sebagainya ? Atau yang bagaimana ! Selanjutnya: apakah yang penting itu adalah ‘bentuk’ atau ‘suasana’ ibadah ?

Masalah bagi kita adalah pamahaman tentang ibadah itu sendiri. Bagaimana seharusnya mengekspresikan ‘pertemuan dengan Tuhan dalam keutuhan persekutuan selaku umat yang telah diselamatkan’. Dapatkah kebebasan berkspresi sebagai karya Roh Kudus itu harus seragam, masing-masing atau terkendali. ————————————————– 4). Cullmann, Oscar, Early Christian Worship, Henry Regnery Company, 1953, hal. 26. 5) Ibid. hal. 33.

Dalam kitab Keluaran 15, saat orang Israel tiba di sebarang Laut Teberau yang dikeringkan oleh Tuhan itu(Kel. 14:15-31), Musa bersama orang Israel bersama-sama bernyanyi memuliakan Tuhan karena kebaikan dan pertolongan-Nya, dan yang kemudian disusul dengan tarian para perempuan yang dipimpin oleh Miriam. Tentulah semua itu merupakan luapan ‘pengucapan syukur’ mereka kepada Tuhan, yang dilakukan dalam bentuk nyanyian pujian dan tarian dan dalam suasana penuh suka-cita. Spontanitas dan kebebasan berekspresi sangat jelas, dalam menghayati dan mensyukuri anugerah Tuhan. Benar, bahwa nyanyian pujian dan tarian itu jelas terpisah. Nyanyian pujian itu merupakan sebuat rangkaian peribadahan yang kusuk yang mengajak seluruh umat menyaksikan dan mengakui betapa Allah mereka berkuasa dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dengan cara yang sangat ajaib. Sesudah rangkaian ‘ibadah pengucapan syukur’ ini, barulah Miriam beserta para perempuan lainnya memukul rebana dan menari tanda suka-cita dan kegembiraan mereka. Peristiwa dalam kitab Keluaran 15 ini adalah merupakan sebuah ‘persekutuan ibadah’ umat (berjamaah) yang pertama yang mengalami kehadiran Allah dalam perlindungan dan penyelamatan-Nya.

Kalau kita mau kembali sedikit ke masa para Patriarkh, dapat dikatakan bahwa ibadah mereka adalah sederhana dan bersifat perorangan, dan lazimnya berbentuk korban persembahan dan doa. Tetapi agama yang sederhana ini rupanya mencapai puncak-puncak persekutuan yang luar biasa dengan Allah; dan nampak juga bahwa hubungan antara ibadat dengan hidup sehari-hari adalah erat sekali. Unsur ibadat bersama, yang begitu kita pentingkan, nampaknya agak kurang.

6). Selanjutnya kita temukan dalam Perjanjian Baru, bahwa baik Yesus maupun umat Kristen mula-mula umumnya mereka masih mengikuti ibadah di Bait Allah atau Sinagoge-Sinagoge, ——————————————- 6). Rowley,H.H, Ibadat Israel Kuna,1967(Terjemahan dari Worship in Ancient Israel, hal. 29).

bersama dengan orang-orang Yahudi(Luk. 4:16; Mat. 13:54; Mrk. 6:2; Kis.Ras. 2 dan 4; dlsb), Kitapun menemukan ibadah perorangan, seperti yang biasa dilakukan oleh Yesus atau bersama murid-Nya, dalam kelompok kecil (Luk. 22:39-46; Mat. 26:36-46; Mrk. 14:32-42). Pola ibadah bersama ini terus berkembang yang rupanya mendapat pengaruh dari pola ibadah –ibadah Yahudi, khususnya setelah mereka menetap di Tanah Kanaan dan lebih khusus setelah Bait Allah berdiri. Saat mereka dalam pembuangan ke Babel, digunakanlah tempat- tempat peribadahan yang disebut ‘sinagoge’ yang dimaksudkan sebagai tempat jemaat Yahudi berkumpul. Asal muasalnya mungkin dari masa pembuangan di Babel, sebab di Babel orang Yahudi tidak dapat berkumpul di Bait Allah.

7). Ciri keyahudian ini tetap tampak dalam hal tempat ibadah, tata, waktu dan perayaan liturgi. Walaupun Gereja memberikan makna dan isi yang baru atas peribadahan Israel, namun tidak berarti kemasannya berubah seluruhnya.

8). Rasul Paulus secara khusus menyoroti tentang kwalitas peribadahan bersama (I Kor. 14 : 26-40). Di sini Rasul Paulus sangat menghargai kebebasan berekspresi sebagai ungkapan iman untuk memperkaya (selebrasi) peribadahan. Ayat 26b: Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh. Semua ini oleh Rasul Paulus sebagai yang berlangsung dalam sebuah ‘perkumpulan’ atau pertemuan anggota jemaat. Dan Paulus sangat menekankan bahwa semua yang dilakukan itu adalah untuk kepentingan ‘pembangunan jemaat’. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah pembangunan dan pertumbuhan ‘iman’. Untuk itu dibutuhkan keterarahan dalam ————————————————- 7). Riemer G, Cermin Injil, Ilmu Liturgi, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF.1995. hal.15. 8). Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi,Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, PT BPK Gunung Mulia, 2001, hal 6.

kebersamaan, agar tidak terjadi semacam anargi dalam peribadahan itu. Kalau ada yang berbahasa roh, dan itu tidak boleh dilarang, namun harus ada yang menafsirkannya(27; 39). Kalau tidak ada yang menafsirkannya, lebih baik ia berdiam diri saja dan hanya berbicara terhadap dirinya saja dan kepada Allah(28). Dalam percakapanpun harus satu-satu dan harus saling mendengarkan dan saling menghargai satu dengan yang lain( 29-32; 34-39). Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera, kesopanan dan keteraturan(33; 40). Seperti sudah dikatakan di atas bahwa Rasul Paulus menghayati bahwa salah satu tujuan ibadah itu ialah membangun sebuah ‘persekutuan’ yang utuh, yang menampakkan ‘keutuhan tubuh Yesus Kristus’. Dengan itu dapat kita katakan bahwa ibadah itu adalah sebuah ‘pertemuan’ antara Tuhan dengan umat-Nya, serta sebuah ‘wujud persekutuan’ keutuhan tubuh Yesus Kristus(I Kor. 12). Dalam ibadah itulah seharusnya jemaat benar-benar dapat merasakan akan kehadiran dan kasih Allah. Di situ jemaat dikuatkan dan dihiburkan dalam menghadapi kehidupan dan pergumulannya, Disitu jemaat dapat mengangkat puji-pujiannya serta ucapan syukurnya dengan bebas dan sepenuh hati. Di situ jemaat dapat menikmati keindahan persekutuan umat yang telah diselamatkan oleh anugerah Tuhan Yesus Kristus. Pemahaman ini seharusnya memperkaya peribadahan jemaat/Gereja.

Kebebasan berekspresi, menurut Rasul Paulus, dengan masing-masing mempersembahkan sesuatu untuk memuliakan Tuhan itu, tidak seharus berwujud dalam bentuk dan suasana tanpa kendali. Juga tidak dapat dikatakan bahwa suasana kebebasan yang tidak terkendali itulah ciri karya Roh Kudus. Paulus mencatat bahasa roh dalam huruf kecil. Sebuah usaha Paulus untuk menghindarkan peribadahan dari kekacauan, khususnya dalam penggunaan bahasa roh. Dicatat bahwa bahasa roh yang biasa digunakan dalam pertemuan- pertemuan ibadah itu adalah sesuatu yang muncul dari hati jemaat yang tdiak dimengerti apa artinya. Sedangkan bahasa Roh yang dikenal dalam Kisah Para Rasul 2 itu, justru mampu menembus kerahasiaan perbedaan bahasa di antara semua yang hadir pada saat itu. Bahwa kebenaran Firman Allah harus dipahami dalam bahasa masing-masing suku-bangsa yang kepadanya Firman itu disampaikan, dan dengan demikian merekapun dapat mengatakan amin dan percaya pada Injil itu. Karena itu, Paulus mengatakan; Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat ? Aku akan berdoa dengan rohlu, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Bahwa memuliakan Allah itu harus seantero diri manusia: tubuh, roh, akal dan budi.

Cara beribadah yang seperti itulah yang akan membuat orang yang hadir untuk dapat mengaminkan apa yang dilakukan dalam ibadah itu, atau atas ‘pengucapan syukur’ jemaat. Hukum Kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Mat. 22:37-40), mengajarkan kepada kita bagaimanan seharusnya memuliakan Allah. Memuliakan Allah dengan : hati, akal dan budi, dan dalam kasih dan kebersamaan dengan sesama. Liturgi umat Kristen seharusnya demikian dan yang juga harus tergambar dalam susunan peribadahan atau selebrasi peribadahan. Dalam semangat yang ini pulalah kebebasan berekspresi sebagai karya Roh Kudus akan nampak dan terwujud. Dan dalam semangat itu pulalah, tidak akan ada tirani kebebasan dan pengekangan oleh siapapun juga. Rasul Paulus ingin agar ‘pertemuan persekutuan ibadah’ itu sangat menghargai kehadiran Allah dan karya Roh Kudus dalam mewujudkan kebersamaan memuliakan Allah, dengan sopan dan teratur(40).

Ibadah haruslah merupakan respons manusia secara sadar akan kehadiran Allah dalam hidupnya. Respons tersebut dapat berupa pujian dan rasa syukur atau komitmen untuk menyembah kepada Allah. Karena itu Ibadah selalu menggabungkan dua tindakan, yakni: kesadaran akan Wahyu dan kehadiran Allah, serta respons atau reaksi dari pemuja terhadap kesadaran tersebut. Ketika salah satu aspek tidak ada, maka Ibadah yang sebenarnya tidak terlaksana.

9). Hal tersebut di atas ini tentu dan seharusnya mencakup segala aspek kehidupan warga jemaat. Jemaat seharusnya selalu menyadari bahwa dalam segala aspek kehidupan Allah senantiasa hadir dengan kehendak-Nya. Dan karena itu jemaatpun harus senantiasa secara sadar memberikan respons atas kehadiran dan campur tangan Allah tersebut. Demikian dalam setiap pelaksanaan peribadahan. Jemaat harus senantiasa memberikan respons dengan sangat sadar bahwa Allah hadir di tengah-tengah jemaat. Dan karena itu dalam logika kesopan-santunan dan kebersamaan di hadapan Allah seharusnya peribadahan itu tidak menjadi kacau dan anarkhis. Dalam kesadaran akan kehadiran Allah akan membuat setiap penyembah untuk secara bersama-sama melakukan dialog dengan Allah dan mengangkat pujian dan ucapan syukur pada tingkat iman yang penuh kepada Allah. Di sanalah ibadah kepada Allah akan berlangsung secara sadar dalam hati, akal dan budi. Dengan itu dapat dikatakan bahwa peribadahan itu bukanlah sesuatu yang ritualistik tetapi juga bukan sesuatu yang kacau. Peribadahan tidak hanya dilihat dari bentuknya, akan tetapi juga dari suasananya.

Suasana yang menyejukkan yang dapat mengantar seseorang untuk sungguh merasakan persekutuannya dengan Allah dan sesamanya.

Bentuk dan suasanan peribadahan harus mampu membimbing, membentuk dan mengantar setiap warga jemaat untuk memuliakan Allah-nya dalam seantero kehidupan dan karya yang dikaruniakan kepadanya. —————————————————– 9). Niguidula, Lydia, N, Celebration: A sourcebook For Christian Worship, Philipines: New Day Publishers, 1975, hal. 1.

IV. Kesumpulan dan Penutup.

Hal-hal terakhir di atas inilah yang harus mendasari dan mewarnai setiap pelaksanaan (selebrasi) peribadah jemaat. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemahaman tentang Ibadah yang sebenarnya belumlah menjemaat. Ia masih lebih dipahami sebagai sebuah ritual-formal baik itu dilakukan dalam kesemarakan, maupun dalam kekusukan yang menegangkan. Itu pula sebabnya maka pelaksanaan peribadahan formal yang dituntun oleh sebuah susunan Liturgi belum juga mampu mengantar warga jemaat secara benar untuk memuliakan, mengagungkan dan merasakan kehadiran Allah, serta menikmati wujud persekutuan peribadahan itu sendiri.

Yang jelas bahwa pertumbuhan ke arah kedewasaan iman warga jemaat banyak ditentukan oleh kwalitas peribadahan(selebrasi) itu juga. Di sana warga jemaat merasakan kehadiran dan persekutuan dengan Tuhan, persekutuan sebagai sesama warga jemaat, yang sedang berada dalam kebersamaan yang berdialog dengan Tuhan-nya. Di sana warga jemaat mendengar firman, memuji, memuliakan dan bermohon, menerima berkat serta mengucap syukur kepada Tuhan. Dan dari sana warga jemaat mendapatkan kekuatan untuk melakukan secara konkrit peribahannya itu dalam kehidupannya sehari-hari, dalam hubungannya dengan sesamanya manusia bahkan keutuhan ciptaan Tuhan.

Gereja Toraja harus konsisten dengan semboyan “Eklesia Reformata Semper Reformanda”. Juga dengan maksud dari Badan Zending yang bekerja dalam Gereja Toraja waktu lampau yakni “Gereformeerde Zendings Bond”, sebuah Badan Zending yang bertujuan untuk selalu melakukan Pembaharuan Pelayanan Gereja Tuhan, baik dalam pembinaan warganya, maupun dalam Pekabaran Injil.

Melihat dan menyadari ketidak puasan sebagian warga Gereja terhadap bentuk dan suasana pelayanan dan peribadahan dalam Gereja Toraja sekarang ini, maka tidak bisa lain, Gereja Toraja harus mau mengintrospeksi diri dan secara jujur mengakui kekurang-menariknya lagi bentuk pelayanannya untuk zaman sekarang ini. Dan dengan berbesar hati mencari bentuk yang lebih sesuai dengan keadaan dan pergumulan jemaat sekarang ini.

Pembaharuan itu tidak selalu harus mencontoh kepada bentuk yang ada di Gereja-Gereja lain, atau kelompok Pentakostal, akan tetapi sebenarnya dengan sendirinya harus mampu untuk memahami dan menjawab kebutuhan pelayanan untuk warga jemaat untuk setiap situasi dan tempat. Gereja harus terbuka untuk melayani secara adil dan benar.

Liturgi peribadahan yang ada pada Gereja-Gereja, baik itu Protestan, Katolik maupun aliran Pentakostal ataupun kharismatik, kalau itu-itu saja, juga akan membosankan warga jemaat. Bahkan yang paling berbahaya apabila hal yang lama itu tetap dipaksakan dengan alasan organisasi ataupun ajaran, akan menjadikan warga jemaat berada dalam sebuah anarkhi ketaatan yang dipaksakan. Sebuah penjajahan rohani !

Gereja dengan ibadah dan pelayanannya, tidak boleh menjadi asing dan diasingkan dari lingkungan dan perkembangan kebutuhan manusia, di mana ia hadir dan melayani. Gereja harus hadir untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar dari Tuhan demi untuk kesejahteraan umat manusia serta kemuliaan bagi nama Tuhan(Yoh. 14: 12). Melalui itu ia harus mampu berdoa berkarya untuk menghadirkan kesejahteraan bagi sekalian ciptaan Tuhan.

Tuhan Yesus mengatakan: Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya(Yohanes 13:17).

Tulisan : Pdt. J.K. Parantean. Peserta : Program D.Min. – STT Jakarta.