Tongkonan Toraja Kini: Pelestarian atau Pengkerdilan?
Bukan hanya Tana Toraja ―dengan ikon arsitektural tongkonan, rumah adatnya― yang mengalami proses meraba-raba dalam menentukan bentuk peradaban fisik kiwarinya. Permasalahannya terletak pada kedalaman dari yang kasat mata, pada budayanya, pada kompleks ide-ide, pola pandangan hidup dan pola pikir masyarakat. Dapat dikatakan, Toraja masa kini, tak pelak lagi adalah salah satu miniatur Nusantara masa kini dimana pelestarian budaya seakan menemukan kebuntuan: bagaimana melestarikan budaya yang tidak bersifat �memeti-eskan� atau �memuseumkan tradisi masa lalu ―dalam kasus Toraja: demi industri pariwisata� namun tanpa implementasi― tapi melestarikan budaya dalam arti memperbaharui pandangan dan praksisnya dalam konteks kejamak-majemukan ruang-waktu Indonesia.
Salah satu dampak berbagai perubahan kejamak-majemukan budaya dan ekonomi yang terekam pada proses perjalanan arsitektur rakyat Toraja ialah bahwa: �the new style tongkonan are being officially promoted to boost the tourist industry and are losing their habitation function, being relegated to the status of monuments (Nas, Peter, J.M., 1998). Sebenarnya, bukan hanya tongkonan yang �diindustri-wisatakan" dan kehilangan fungsi huniannya seperti yang dinyatakan di atas, tetapi juga liang, kubur bermakna �hunian bagi para arwah leluhur�. Budaya Toraja mesti bangkit. Tetapi dengan cara bagaimana?
[B]Bangkit dari liang megalit[/B]
Liang atau kuburan adat bagi orang Toraja, dipandang sebagai tongkonan tangmerambu (tongkonan tanpa asap yang mengepul, tanpa dapur/dapo, yang dalam rumah Toraja adalah pusat/inti kegiatan dalam sebuah keluarga). Dapur dengan perapian kayu bakar menimbulkan asap cukup tebal. Maka, bila dapurnya tidak memperlihatkan kepulan asap berarti tanda bahwa di rumah itu tidak ada lagi kehidupan, seolah isyarat bahwa alam pikir warisan zaman megalitikum itu pun kini tinggal tersisa sisa artefaknya saja (Abdul, 2004: 83).
Liang bagi keluarga Toraja mempunyai arti yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia, karena menurut kepercayaan asli Toraja Aluk Tadolo, liang merupakan pasangan tongkonan yang sebenarnya. Mereka percaya bahwa kematian seseorang hanyalah merupakan pergantian status dari alam nyata ke alam gaib (puya). Jika waktu masih hidup di dunia berkumpul di rumah tongkonan maka kalau mati maka tulang belulangnya akan berkumpul di liang (kuburan) Oleh sebab itu, jasad orang mati harus mendapat pelayanan seperti pada waktu masih hidup, sehingga bila keluarga bangsawan Toraja membangun sebuah tongkonan semasa hidupnya di dunia, harus dibuatkan juga liang sebagai pasangan dan sebagai persiapan hari esok: ketika anggota keluarga yang wafat dikuburkan (Abdul, 2004: 84).
Secara implisit, sebenarnya terlihat bagaimana pola pandang Toraja terhadap perputaran waktu dan keruangannya sebagaimana asal-usul nama �toraja� sendiri yang menurut versi rakyat, mengandung unsur nama benda-langit penunjuk perputaran waktu. Toraja, dalam konsepsi kewilayahan mereka adalah tandak tepongan bulan tana matarik allo (kampung dari lingkaran sinar bulan, tanah dari lingkaran sinar matahari). Konsepsi ruang-waktu atau kesemestaan tersebut pun mewujud dalam ragam-hias tongkonan. Tetapi kosmologi itu mulai berubah pada awal abad yang lalu.
Ketika Kristen/Protestan makin banyak dianut sebahagian besar penduduk sejak tahun 1930-an melalui pendeta-pendeta Belanda, muncul dua garis besar sikap: menolak seluruh unsur lama atau memilah-pilih melestarikan apa yang tak bertentangan dengan norma baru. Pada kenyataannya banyak pemeluk Kristen Toraja beranggapan bahwa tidak seluruh Aluk bertentangan dengan pemahaman terhadap ajaran agama baru yang mereka anut, tetapi ada yang bersikap radikal dan menolak seluruh Aluk ―meski dalam relasi sosial mereka tidak dapat menghindarkan diri dari Aluk, semisal upacara pemakaman (rambu solok).
Demikianlah maka saat ini, hampir tidak lagi dibuat liang dan tau-tau, tapi digantikan oleh patung dari semen yang mengutamakan kemiripan wajah si wafat, tidak lagi dianggap sebagai penjelmaan roh si wafat; tidak lagi diberi sesajian. Begitu pula mangrara banua (peresmian tongkonan) kini adalah ajang pertemuan rumpun maupun keluarga besar keturunan penghuni pertama tongkonan tersebut. Bangunan gereja di Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja, mengambil tongkonan secara keseluruhan. Struktur vertikal tongkonan tampak tetap terbagi atas tiga bagian (bawah/kolong, tengah/badan dan atas/atap). Namun nilai-nilai religius Aluk Tadolonya, telah diganti dengan dengan fungsi-fungsi gereja. Bagian kolong sebagai lobi dan perpustakaan; bagian badan bangunan sebagai ruang jemaat dan ritual kristiani.
Secara bertahap, berubahnya pandangan hidup masyarakat Toraja karena agama Kristen (bagi sebahagian besar penduduk dan Islam bagi minoritas pendatang) membawa implikasi terhadap simbolisme nilai-nilai tradisional tongkonan: bangunan ini tidak lagi untuk memuliakan Puang Matua, deata-deata, tomembali puang (todolo) namun dipergunakan dengan asas fungsi dan efisiensi. Akibatnya, unsur-unsur simbolik tradisi Toraja, kini diterapkan untuk fungsi praktis saja, bahkan menghilangkan sama sekali makna simbolik religiusnya (Abdul, 2004: 222). Contohnya pada tau-tau model baru, ukiran motif pada berbagai benda cinderamata, penerapan ragam hias pada interior hotel atau desain bangunan. Yang tampak adalah hybridization: pengkawin-silangan, pencampur- aduk-olah-bauran unsur-unsur simbol-fungsi, lama-baru, dari-ke, luar-dalam �wilayah budaya� arsitektur rakyat Toraja.
[B]Peng-hybrid-an untuk industri wisata[/B]
Industri pariwisata menjangkau budya Toraja sejak masa penjajahan Belanda yaitu pada tahun-tahun 1910-1912, dengan dikeluarkannya keputusan Gubernur Jendral Hindia-Belanda tentang pembentukan Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV), badan atau official tourist bureau pada masa itu. VTV juga bertindak sebagai tour operator atau travel agent. Pada tahun 1913 VTV menerbitkan buku petunjuk mengenai daerah-daerah wisata di Indonesia termasuk Tana Toraja. Pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1938, disusul dengan pendudukan tentara Jepang di Indonesia menyebabkan kepariwisataan mandek. Setelah tahun 1949, kehidupan sosial politik dan ekonomi berangsur membaik. Namun berbagai gangguan keamanan dan pemberontakan yang dilandasi unsur primordial, secara beruntun meletus di berbagai daerah. Baru setelah tahun 1960-an, pemerintah mulai membangun industri pariwisata. Menyadari sektor itu merupakan pemasok devisa, maka unsur budaya dan keindahan alam menjadi objek program pembangunan. Dalam tujuan ini, Kabupaten Tana Toraja ditetapkan sebagai salah satu tujuan wisata (Abdul, 2004: 223)
Demikianlah sejak awal tahun 1970-an, pembangunan hotel-hotel digalakkan dengan tampilan unsur-unsur visual budaya tradisional, baik pada desain bangunan arsitekturnya maupun desain interiornya ―dengan nilai-nilai budaya yang sudah dan makin jauh berpindah ke arah alam pikir �third culture� atau kultur global dengan asas ekonominya yang mendorong hybridization dalam arsitektur. Contoh klasik hybridization, antara lain adalah desain Hotel Marante di Tana Toraja, yang bangunan cottagenya mengadopsi Tongkonan berbahan konstruksi beton, baja dan kaca. Cottage Hotel Marante terdiri atas dua lantai, struktur vertikal bangunannya terbagi atas tiga bagian. Bagian atap, menggunakan bahan sirap, meniru bentuk asli atap Tongkonan yang dilengkapi dengan tulak somba. Bagian tengan, bangunan merupakan lantai dua yang berfungsi sebagai ruang tidur dengan tambahan balkon pada bagian depannya. Bagian bawah bangunan merupakan lantai satu yang berfungsi sebagai ruang tamu dan toilet/kamar mandi. Lobi utama, front desk dan coffeshopnya menerapkan ornamentasi berupa ragam hias tradisional Toraja pada dinding dan plafon, namun secara keseluruhan suasana ruang tetap mengesankan kemodernan. Demikian juga halnya dengan bangunan cottage pada Hotel Novotel dan Hotel sahid Toraja, dapat dikatakan bahwa penampilannya sama. Perbedanya, terletak hanya pada penggunaan bahan dan konstruksi bangunan: badan bangunan cottage Hotel Sahid Toraja mempergunakan bahan kayu seluruhnya kecuali bagian dalam kamar mandi/toiletnya. Namun interior lobi Hotel Novotel Toraja terlihat adanya usaha untuk menciptakan ruang yang relatif ledih berkesan lokal denganbentuk plafon yang mengikuti bentuk bagian bawah atap dan mempergunakan bambu dan kayu; meskipun ragam hias Toraja pada ruang tetap memperlihatkan kesan tempelan (Abdul, 2004: 226).
Kata �hybrid� atau �tempelan� adalah bukti nyata suatu pergulatan. Di satu sisi, ada perasaan asing bagi cita-rasa keindahan yang terbentuk begitu lama pada suatu wilayah budaya rakyat tertentu, di sisi lain ada desakan untuk mememenuhi tuntutan-tuntutan jasadiyah seperti efesiensi, efektifitas, modernitas dalam arti penyerapan terhadap kultur global atau konsepsi tentang kekinian dll. Namun jauh lebih penting dalam pergulatan itu sebenarnya adalah mencuatkan makna baru budaya kiwari Toraja serta perwujudannya dalam arsitektur ―dan bukan hanya selalu berkutat dengan debat-seminar-dialog yang akan sia-sia jika sekedar membahas bentuk-bentuk fisik dan fisik saja, atau menyoroti dialektiktika local dan �third culture�. Dalam kasus Toraja, di masa lalu ada tiang pusat (naval post) a�riri posi pada tongkonan sebagai simbol yang bermakna kesemestaan. Lalu, apa yang mesti menjadi �tiang pusat� dalam kehidupan budaya Toraja masa kini? Apakah bukan ini sebetulnya tujuan strategi kebudayaan yang mesti ditetapkan?
Apakah dalam proses perjalanan kebudayaan Toraja, sebagaimana wilayah budaya lain di Indonesia, ekonomi industri pariwisata secara sengaja sedang dijadikan �tiang pusat� dalam kehidupan budaya Toraja masa kini? Bukti-bukti nyatalah yang berbicara membentang fakta: Untuk menjaga kelestarian artefak tongkonan yang telah berusia relatif tua, maka pemerintah daerah menetapkan areal perkampungan di Ke�te dan Pangli Palawa sebagai cagar budaya yang dilindungi dan merupakan obyek utama kepariwisatawan Toraja, karena terdapat jejeran tongkonan dan alang (lumbung) yang masih asli. Program tersebut mendorong tumbuhnya industri kerajinan rakyat terutama kerajinan ukir. Sementara itu, para perajin mencoba mencari bentuk-bentuk desain cindera mata: antara lain, miniatur tongkonan dari bahan bambu dan kayu. Demikian juga halnya pengrajin tenun beragam hias tradisional yang kebanyakan telah mengikuti pelatihan manajemen dan ketrampilan yang terus dilakukan pembinaan oleh pemerintah setempat, mereka memodifikasi ragam hias tanpa mempertimbangkan makna di baliknya. Aspek ekonomi memang penting, tetapi lebih tepat jika dilihat sebagai satu segi saja dalam peri berkehidupan bersama antara manusia-masyarakat-alam.
Apabila nilai-nilai luhur yang dapat ditarik sebagai hikmah-pelajaran dari simbol-simbol masa lalu tak dapat terkontekstualisasikan kembali secara sosial dan ekologis ―katakan saja tema ragam-hias tradisional pa�barre allo yang antara lain membawakan tata nilai tandak tepongan bulan tana matarik allo tentang kesatuan-persatuan dan peri berkehidupan bersama antara manusia-masyarakat-alam ―bukankah itu dapat saja berarti bahwa di Toraja, sedang terjadi pengkerdilan budaya yang berkelanjutan?
November 22nd, 2007 at 2:47 pm
pengkerdilan budaya ??
hmm suatu terminology yang agak sulit dimengerti buat orang awam seperti saya.
namun saya cukup salut dengan pikiran kritis yang anda punya.
jika benar ada pengkerdilan budaya ? apakah ada solusi yang sempat terpikirkan ??
October 2nd, 2008 at 3:20 pm
I just want to take some money!
Press here
November 20th, 2008 at 3:05 pm
hey man i love your site.. your friend michael told me you were looking for a new way to earn some extra income online.
i own an awesome website where you can make money online..most our users are making like 20-50 bucks a day.. with minimal work.. its pretty simple to do.. its actually so easy to do you won’t believe ill actually pay you to do it.. and its 100% free to sign up and try.
another positive about my site unlike all the other sites.. i will pay you out daily.. so you earn 5 bucks in the first 5 minutes you work on my site.. request a payout and i will pay you out right then.. i guarantee no other sites like mine will pay out daily multiple times..
i’d be glad to help you.. if you sign up..
http://www.classofcash.shiftcode.com/paidpts/home?ref=blog1
December 28th, 2008 at 8:26 am
hello! I like your website
If you r looking for Paid Surveys this is the place for u.
Start advancing your paychecks on http://tinyurl.com/9eeaop
August 25th, 2009 at 10:00 pm
hhhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!